Membangun (Manusia) Masjid

Sebuah pemandangan yang seringkali saya temui dan mungkin juga seringkali anda temui dan anda saksikan disekitar anda. Mobil dengan sebuah corong pengeras suara yang terpasang diatapnya. Mobil tersebut mengangkut banyak orang dan mungkin sebanyak orang yang dapat ditampung oleh mobil tersebut. Biasanya penumpang mobil tersebut adalah sekelompok anak kecil usia SD yang berkopyah atau ibu­ibu rumah tangga yang berkerudung. Berbekal sebuah kotak kayu kecil pada tiap­tiap penumpang, penumpang mobil berpengeras suara tersebut turun dan menyebar ditempat yang ramai, yaitu diperumahan, pasar, terminal dan tempat­ tempat ramai lainnya.

Pemandangan lain yang sering saya dapati adalah saat melakukan sebuah perjalanan. Yaitu banyak ditemui sebuah bangunan yang belum sempurna atau bahkan belum ada bangunannya dengan seperangkat manusia yang sudah dibagi tugasnya masing­masing. Sebagian besar tugas para manusia sekitar bangunan tak sempurna itu adalah berdiri dipinggir jalan atau bahkan ditengah jalan dengan membawa ember.

Dua fenomena diatas adalah salah satu cara untuk “menjemput bola” amal para dermawan.Yaitu dengan mendatangi kumpulan manusia atau menghadang kendaraan yang lewat dan dengan lihainya seorang orator berpidato untuk meminta amal dan diikuti para staffnyadengan cara menodongkan kotak kayu atau ember bertuliskan nama bangunan yang belum sempurna atau bangunan yang belum dibuat. Tahukah anda, apa bangungan yang dimaksud? Yah anda benar. Bangunan yang dimaksud adalah “Masjid” dan para manusia pembawa katak kayu kecil yang keliling dengan mobil bercorong pengeras suara atau para manusia yang berdiri dipinggir bahkan kadang juga di tengah jalan itu adalah “relawan pencari dana pembangunan masjid”.

Salahkah yang demikian itu? Tentu tidak. Masjid berasal dari kata sajada yang artinya tempat sujud. Secara teknis sujud (sujudun) adalah meletakkan kening ke tanah. Secara maknawi, jika kepada Tuhan sujud mengandung arti menyembah, jika kepada selain Tuhan, sujud mengandung arti hormat kepada sesuatu yang dipandang besar atau agung. Sedangkan sajadah dari kata sajjadatun mengandung arti tempat yang banyak dipergunakan untuk sujud, kemudian mengerucut artinya menjadi selembar kain atau karpet yang dibuat khusus untuk salat orang perorang. Oleh karena itu karpet masjid yang sangat lebar, meski fungsinya sama tetapi tidak disebut sajadah.

Adapun masjid (masjidun) mempunyai dua arti, arti umum dan arti khusus. Masjid dalam arti umum adalah semua tempat yang digunakan untuk sujud dinamakan masjid, oleh karena itu kata Nabi, Tuhan menjadikan bumi ini sebagai masjid. Sedangkan masjid dalam pengertian khusus adalah tempat atau bangunan yang dibangun khusus untuk menjalankan ibadah, terutama salat berjamaah. Pengertian ini juga mengerucut menjadi, masjid yang digunakan untuk salat Jum’at disebut Masjid Jami`. Karena salat Jum`at diikuti oleh orang banyak maka masjid Jami` biasanya besar. Sedangkan masjid yang hanya digunakan untuk salat lima waktu, bisa di perkampungan, bisa juga di kantor atau di tempat umum, dan biasanya tidak terlalu besar atau bahkan kecil sesuai dengan keperluan, disebut Musholla, artinya tempat salat. Di beberapa daerah, musholla terkadang diberi nama langgar atau surau.

Jika menengok sejarah Nabi, ada tujuh langkah strategis yang dilakukan oleh Rasul dalam membangun masyarakat Madani di Madinah.

1. mendirikan Masjid,

2. mengikat persaudaraan antar komunitas muslim,

3. Mengikat perjanjian dengan masyarakat non Muslim,

4. Membangun sistem politik (syura),

5. meletakkan sistem dasar ekonomi,

6. membangun keteladanan pada elit masyarakat, dan

7. menjadikan ajaran Islam sebagai sistem nilai dalam masyarakat.

Ketika Nabi memilih membangun masjid sebagai langkah pertama membangun masyarakat madani, konsep masjid bukan hanya sebagai tempat salat, atau tempat berkumpulnya kelompok masyarakat (kabilah) tertentu, tetapi masjid sebagai majlis untuk memotifisir atau mengendalikan seluruh masyarakat (Pusat Pengendalian Masyarakat). Secara konsepsional masjid juga disebut sebagai Rumah Allah (Baitullah) atau bahkan rumah masyarakat (bait al jami`). Secara konsepsional dapat dilihat dalam sejarah bahwa masjid pada zaman Rasul memiliki banyak fungsi :

1. Sebagai tempat menjalankan ibadah salat

2. Sebagai tempat musyawarah (seperti gedung parlemen)

3. Sebagai tempat pengaduan masyarakat dalam menuntut keadilan (seperti kantor pengadilan) Secara tak langsung sebagai tempat pertemuan bisnis Yang lebih strategis lagi, pada zaman Rasul, masjid adalah pusat pengembangan masyarakat dimana setiap hari masyarakat berjumpa dan mendengar arahan­ arahan dari Rasul tentang berbagai hal; prinsip­prinsip keberagamaan, tentang sistem masyarakat baru, juga ayat­ayat Qur’an yang baru turun. Di dalam masjid pula terjadi interaksi antar pemikiran dan antar karakter manusia. Azan yang dikumandangkan lima kali sehari sangat efektif mempertemukan masyarakat dalam membangun kebersamaan.Dengan kata lain, masjid mempunyai dua fungsi utama yaitu fungsi keagamaan dan fungsi sosial.

Yang menjadi catatan disini adalah kenapa semakin banyaknya masjid dibangun, semakin sepi pula masjid itu. Banyak terlihat disana­sini masjid yang hanya penuh sesak hanya pada saat sholat sunnah saja yaitu sholat Tarawih pada bulan Ramadhan, dan sholat idain saja (walaupun ada sebagian jamaah yang sholat idain dilapangan) untuk sholat wajib hanya terlihat ramai saat sholat jum’at saja. Itulah kenapa tulisan ini diberi judul membangun manusia masjid, karena supaya kita menjadi pribadi yang memusatkan kegiatannya dimasjid.

Yang lebih parah lagi adalah adanya sebuah persaingan antara satu masjid dengan masjid lainnya, kalau persaingannya dalam hal ber­fastabiqul khairat itu bagus, akan tetapi ada sebuah kejadian warga mendirikan masjid disebelahnya terdapat sebuah masjid hanya karena ketidak cocokan tokoh agama sehingga terjadi sebuah fanatisme jamaah masjid terhadap masjidnya.

Alangkah baiknya kita merenung sejenak tentang apa fungsi masjid. Bahwasanya rasanya percuma kita mempercantik masjid tanpa mempercantik jamaahnya, tanpa memperkokoh shaf (barisan) sholatnya, dan tanpa memperbanyak majlis ilmu didalamnya. Karena sesungguhnya masjid diharapkan menjadi sebuah pusat ibadah, kajian ilmu, dan pusat syiar agama. Mari kita mulai membangun pribadi kita yang membuat masjid kembali menjadi fungsinya, bukan membuat masjid menjadi sebuah bangunan sombong yang hanya memperhatikan aspek kemegahan bangunan fisiknya saja.

Wallahu a’lam bish­showab.

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s