MAHASISWA DIANTARA DUA KAMPUS

Mahasiswa merupakan suatu elemen masyarakat yang unik. Jumlahnya tidak banyak, lebih banyak jumlah pelajar dan pekerja, namun sejarah telah menunjukkan bahwa kehidupan berbangsa dan bernegara tidak akan bisa terlepas dari mahasiswa. Walaupun jaman terus bergerak dan berubah, namun ada satu hal penting yang tidak berubah dari mahasiswa, yaitu semangat dan idealisme yang telah menjadi cirri khas dari sebuah makhluk yang bernama mahasiswa.

Di dalam dunia kampus mahasiswa selalu dihadapkan pada prestasi, apakah mahasiswa itu akan berprestasi di bidang akademis, sesuai dengan kodratnya sebagai seorang intelek? Atau akan lebih memilih untuk berprestasi di organisasi karena menganggap organisasi adalah miniature dari kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara? Atau bahkan menjadi mahasiswa yang ingin bersikap adil dengan berusaha menciptakan prestasi-prestasi di dua sisi tersebut dan menganggap bahwa akademis dan organisasi adalah dua sisi mata uang yang tidak dapat terpisahkan? Semuanya tergantung dari mahasiswa itu sendiri sesuai dengan tipe yang dia suka.

Banyak orang mendefinisikan mahasiswa sebagai tingkatan paling tinggi dari siswa dan seorang mahasiswa harus berpola pikir yang sangat berbeda dengan siswa-siswa tersebut. Mahasiswa harus harus cerdas bukan sekadar pintar saja dan kritis akan lingkungan sekitarnya yang buruk diperbaiki yang baik menuju kesempurnaan. Namun sayangnya tidak semua mahasiswa bertindak sebagai agent of control, militansinya kurang dan apatis dengan lingkungan sosialnya. Mungkin sekarang ini mahasiswa di doktrin untuk belajar dengan akademik yang tinggi, namun sayang sekarang mahasiswa hanya dipandang sebagai intelektual kampus bukan sebagai intelektual buat bangsa melainkan untuk dirinya sendiri.

Ada beberapa hal yang membedakan mahasiswa dengan komponen masyarakat yang lain, yaitu pengetahuan, universitas, academic freedom, dan student government. Pengetahuan adalah segala hal yang di dapat melalui proses rasional dan empiris yang patuh pada kaidah tertentu (ilmiah). Jelas sekali bahwa sebagai mahasiswa wajib mempunyai ilmu pengetahuan yang lebih tinggi dibandingkan dengan pelajar dan pengetahuan yang dimiliki menjadi dasar disebutnya mahasiswa sebagai kaum akademisi atau kaum intelektual. Universitas adalah instansi formal yang di dalamnya dipelajari segala bentuk pengetahuan dan ada proses dialog antar pengetahuan. Tidak bisa dikatakan mahasiswa jika tidak ada universitas, tentunya sebagai mahasiswa wajib untuk mengikuti aturan-aturan yang ada dalam universitas.

Akademik freedom adalah hak/ jaminan untuk bebas menyampaikan kritik dalam mimbar akademik, sesuai dengan kaedah yang berlaku dalam ilmu pengetahuan. Ada juga student government adalah instansi formal yang independen dan tidak dapat dipengaruhi otoritas universitas. Pemerintahan ini hanya terdiri dari mahasiswa yang terorganisir dengan baik sehingga dapat menjadikan kampus kedua setelah kampus akademik untuk belajar.

Apabila kita menilik ke dalam untuk mengetahui apa hakekat dari mahasiswa, maka kita akan mengetahui bahwa mahasiswa mempunyai banyak sekali sisi. Disatu sisi mahasiswa merupakan peserta didik, dimana mahasiswa diproyeksikan menjadi birokrat, teknorat, pengusaha dan berbagai profesi lainnya. Dalam hal ini mahasiswa dituntut untuk memeliki kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual. Dengan keseimbangan tiga hal tersebut diharapkan mahasiswa dapat mengendalikan egonya, mandiri, dan menjadi pribadi yang handal menggantikan peran-peran pendahulunya dimasa yang akan datang dengan melakukan perbaikan terhadap kondisi kearah yang lebih baik.

Di sisi lain, mahasiswa juga dituntut sebagai agent of control. Mahasiswa berperan sebagai control sosial terhadap penyimpangan yang terjadi pada system, norma, dan nilai-nilai yang adan dalam masyarakat. Selain itu mahasiswa mempunya hak untuk mempengaruhi kebijakan pemerntah terhadap publik.

MAHASISWA DI KAMPUS AKADEMIK

Dalam menempuh studi diperlukan sebuah kemampuan akademik yang merupakan tuntutan dan tujuan seseorang dalam perkuliahan. Kemampuan akademik tidak terlepas dari suatu daya berpikir dan menalar. Itulah yang menyebabkan mahasiswa identik dengan istilah cendekiawan yaitu seseorang yang mempunyai tingkat intelektualitas yang tinggi. Mahasiswa juga diidentikkan dengan kaum intelektual. Mengapa? Pertama kita telusuri terlebih dahulu apakah intelektual itu. Intelek berasal dari bahasa latin yaitu Intellectus yang berarti pemahaman, pengertian, dan kecerdasan. Sedangkan kata intelektual berarti suatu sifat yang cerdas, berakal, dan berpikiran jernih berdasarkan ilmu pengetahuan.

Mahasiswa, menurut PP Nomor 60 Tahun 1999 adalah peserta didik yang terdaftar dan belajar pada perguruan tinggi tertentu, beserta dosen sebagai bagian dari masyarakat ilmiah sudah selayaknya menggunakan metode discourse atau dialogis dalam proses belajar mengajar. Berdasarkan etika kemahasiwaaan yang diatur dalam  PP Nomor 60 Tahun 1999, mahasiswa hendaknya memilki intelektualitas dan motivasi untuk mengabdi pada bangsa dan negaranya. Mahasiswa memiliki kebebasan akademik untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi melalui penguasaan metode dan pengujian teori sesuai dengan norma dan kaidah tertentu. Mahasiswa hendaknya memiliki pola pikir yang ilmiah dan professional.

Hakekat etika akademik yang terserap dalam kebebasan ilmiah adalah kejujuran, yaitu kejujuran dalam mencari dan menemukan kebenaran serta mengungkapkannnya. Kejujuran yang penuh daya kritis dan kearifan. Secara sederhana mahasiswa harus jujur, tidak melakukan penyimpangan secara keilmuan dan pelacuran ilmiah. Sebagai contoh yang sering yang dilakukan mahasiswa adalah pembajakan skripsi, menjiplak (ngrepek) saat ujian, plagiat dalam menelitian, penelitian pesanan dengan mengacu pada pesan sponsor, dan manipulasi fakta.

Contoh-contoh tersebut dapat dianalogikan seperti broker intlektual yang bergerak jika ada pesanan. Sangat ironis sekali, tapi itu adalah fakta yang seharusnya kita sadari dan kita ubah. Berpikir sebelum bertindak, perlu dilakukan karena banyak kemungkinan mahasiswa akan dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab sebagai lahan basah demi tercapainya kepentingan mereka.

Mahasiswa sebagai akademisi yang memiliki potensi besar dalam dirinya, kemampuan logika, intelegensi yang tinggi, didukung oleh fisik yang energik, mempunyai kewajiaban atas hausnya ilmu,haus informasi, selain itu harus mencerminkan sikap ilmiah dan etika akademik. Sifat haus ilmu dicerminkan denganmemburu ilmu dimana saja dan kapan saja, mahasiswa bukan masanya lagi untuk menunggu informasi untuk memperoleh dan mengembangkan ilmu melainkan ditutut untuk mencari ilmu.

Francis Bacon, filosof perancis, mengatakan membaca, menulis dan berdiskusi merupakan budaya ilmiah yang ilmiah yang harus dilakukan oleh mahasiswa selaku civitas akademika. Membaca membuat akan membuat kita kaya, menulis akan membuat logika dan pena kita tajam dan produktif, sedangan berdiskusi dapat membuka jenela semakin luas akan wawasan, belajar untuk menghargai pendapat orang lain, semakin kritis dan mahir dalam penyampaian retorika ilmiah.

Allah juga telah mengajarkan kepada setiap manusia dalam QS. Al-Alaq:1-5. Bacalah dengan nama tuhanmu yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dengan nama tuhanmmu yang mengajarkan ilmu dengan tulisan/pena. Dia mengajarkan kepada manusia hal-hal yang belum kita ketahui. Selain itu dalam kitabnya juga Allah akan menaikan beberapa derajat orang-orang yang menuntut ilmu. Begitu besarnya komitmen islam terhadap ilmu. Ajaran islam yang sangat memotivasi ummatnya untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya. Maka memang selayaknyalah mahasiswa berkonsentrasi pada pemikiran-pemikiran ilmiah dan keagamaan agar menjadi intelektual-intelektual agamis yang bisa diharapkan bangsa dan berguna untuk masyarakat.

MAHASISWA DI KAMPUS KEDUA: ORGANISASI

Mahasiswa tidak dapat dipisahkan dengan organisasi. Dalam dunia ke-mahasiswa-an, organisasi merupakan wahana aktualisasi diri. Organisasi menyediakan ruang lebar pada mahasiswa untuk mengasah diri (kreativitas), memperkuat mental, mempertajam daya intelaktual, dan menumbuhkan kekerabatan diantara mahasiswa satu sama lain. Sesuai dengan pengertiannya. Organisasi terwujud atas dasar sekumpulan orang yang terikat suatu sistem baku demi mencapai satu tujuan yang sama. Tanpa mempermasalahkan latar belakang golongan, ras, agama, dan budaya. Orang dapat dipersatukan dalam satu ikatan kuat organisasi. Persaudaraan, toleransi, kepercayaan, dan kebersamaan menjadi ciri mutlak kesejatian organisasi.

Bagi mahasiswa, organisasi adalah penting sebagai kampus kedua setelah kampus akademis di mana mereka menimba ilmu. Dalam artian mahasiswa tidak sebatas mengindahkan konsentrasi studinya, malainkan juga mengindahkan nilai-nilai sosial, budaya, dan agama. Hal ini telah terbukti pada periode emas kemerdekaan, revolusi, tragedi tritura, sampai keberhasilan reformasi. Fenomena besar ini lahir dari tangan aktivis kampus yang bergabung dalam organisasi kemahasiswaan.

Menilik dari beberapa hal diatas, organisasi merupakan tempat yang tepat bagi mahasiswa untuk mengasah kemampuan dalam segala hal mulai dari hal akademik, humanitas, leadership, wacana publik, hingga aspek religius. Tidak berlebihan apabila ada yang memunculkan istilah organisasi adalah “laboratorium” bagi mahasiswa dalam mengembangkan kemampuannya dalam segala hal.

Sejatinya, organisasi kemahasiswaan selalu melahirkan sosok pemimpin yang dapat diandalkan dalam memimpin jenjang kepemimpinan disemua tingkatan. Tetapi menjadi pemimpin juga harus hati-hati dengan orang-orang di dekatnya. Walaupun awalnya sangat revolusioner, setiap pemimpin yang tengah berkuasa memiliki peluang yang sama untuk menjadi feodal, bisa jadi pemimpin yang berkuasa tersebut di pengaruhi oleh lingkarannya.  Sekalipun jaman berubah, ilmu dan teknologi sudah maju, pemimpin sebuah organisadi merupakan pilihan menjadi pelayan terhadap anggotanya, bukan kekuasaan dan kesempatan bagi dirinya tetapi kesempatan dan kekuasaan untuk melayani dan mengayomi seluruh anggotanya.

Karena sifat yang terbuka, sebuah organisasi harus selalu menyesuaikan diri dengan lingkungannya agar ia tidak tertinggal dalam persaingan dengan organisasi lain, karena begitu banyak faktor yang menentukan keberhasilannnya. Semakin banyak sumber daya yang terlibat maka semakin ringan pekerjaan, namun semakin banyak pula permasalahan. Ketersediaan sumber daya yang melimpah belum tentu dapat mengantarkan kemajuan bagi suatu organisasi. Faktor penyebab utama biasanya adalah Conflict of Interest yaitu benturan-benturan kepentingan pribadi masing-masing sebagai pelaku organisasi.

Hingga hari ini, organisasi kemahasiswaan masih dapat dibilang urgen. Pertama, Imam Ali pernah berkata, “kebenaran yang tidak terorganisir akan ditumbangkan kebatilan yang terorganisir”. Mengingat kampus merupakan basis masyarakat terdidik, setidaknya kita optimis, dari “pribadi” merekalah akan lahir konsep-konsep bermutu dalam mengorganisir kebenaran.

Kedua, organisasi kemahasiswaan yang notabene diisi oleh kaum muda. Yang secara mental, integritas, pemikiran, dan tenaga masih segar. Jika bersatu, maka kekuatan dahsyat akan lahir dan akan sulit ditumbangkan kekuatan manapun. Tidak heran jika Soekarno (alm) meminta sepuluh pemuda saja (dari kalangan mereka).

Ketiga, kondisi ke-bangsa-an yang dalam zona carut-marut. Tidak rela kiranya bila terus diabaikan kian tak nentu. Peran mahasiswa yang terhimpun dalam organisasi kemahasiswaan tentu masih dinantikan. Dibutuhkan untuk mengontrol kebijakan atau kembali melakukan pergerakan akbar, manfaat, dan maslahat demi terwujudnya stabilitas bangsa. Bukankah mahasiswa masih sebagai agen of change?

Namun ada persoalan yang timbul dalam organisasi mahasiswa terkait dengan kompetensi intelektual, mahasiswa sebagai kelompok yang masih harus menekuni studi keilmuannya dan mengejar prestasi. Sejauh ini peranan organisasi mahasiswa dinilai kurang menyentuh dimensi intelektualitas ketimbang dimensi sosial dan politik. Padahal seharusnya organisasi merupakan tempat untuk mengapresiasikan atau untuk mengasah keintelektualan, walaupun memang wacana politik dan sosial juga diperlukan. Tetapi walau bagaimanapun sesuai dengan kodratnya yang masih sebagai “siswa” organisasi menjadi ajang kompetensi dalam meningkatkan keintelektualan.

ANTARA NILAI AKADEMIK DAN ORGANSASI?

Sebagaian besar mahasiswa terjebak akan pertanyaan klasik tersebut, mahasiswa tidak bisa memposisikan dirinya dalam dua kursi yang berbeda. Jarang sekali ada mahasiswa yang sukses di dalam keduanya. Banyak mahasiswa yang unggul prestasinya enggan untuk kenurunkan ilmunya dalam organisasi. Kebalikannya, mahasiswa yang menjadi pelopor dan penyokong bahkan pemimpin di dalam organisasi mempunyai prestasi akademik yang kurang wah dan harus mengulang beberapa SKS yang telah dia tempuh. Itulah kenapa organisasi memiliki sebuah coreng di wajah yaitu berupa nilai akademik yang hancur atau bahkan sudah kadaluwarsa dikampus tetapi belum juga lulus. Lantas bagaimana untuk menghilangkan stigma yang seperti itu Padahal jika kita terlusuri bersama, kehidupan organisasi tidak dapat dipisahkan dari sisi-sisi akademik atau intelektual.

Di dalam organisasi seorang mahasiswa selalu menyemarakkan sebuah diskusi intelektual yang pastinya akan mengasah kemampuan intelektualitas dan meningkatkan kualitas diri sebagai seorang mahasiswa. Jika sudah demikian apa yang salah? Bahkan ada sebuah kecenderungan dalam organisasi kemahasiswaan yaitu hanya sebagai pelarian seorang mahasiswa yang frustasi atau bosan dengan kegiatan akademis perkuliahan sehingga saking enjoynya mereka berorganisasi mereka bisa lupa daratan dan acuh terhadap permasalahan akademik perkuliahannya serta kajian-kajian yang dilakukan dalam berorganisasi berbalik 180 derajat dengan disiplin ilmu yang mereka tempuh dalam perkuliahan.

Moh. Nurhakim dalam bukunya Islam Respontif agama di Tengah Pergulatan Ideologi Politik dan Budaya Global menjelaskan bahwa mahasiswa: 1) Penuh dengan informasi, dan mudah berkomunikasi dengan siapapun dengan siapapun dalam masalah apapun; 2) berupaya terus menerus untuk mengumpulkan informasi; 3) melihat dan menilai sesuatu secara ojektif, terbuka, dan bebas; 4) wawasan luas tentang masalah akademik maupun masalah non akademik; 5) dialog, berkomunikasi dengan masyarakat, dan perduli terhadap masala-masalah social. Karena itu, mahasiswa berpikir positif, optimis, progressif, dinamis, antisipatif, objektif, dan kreatif.

Dari ciri-ciri di atas dapat dikatakan bahwa, disamping mahasiswa memiliki tugas untuk menguasai dan mengambangkan ilmu pengetahuan, mahasiswa juga memilliki misi menerapkan ilmu kepada masyarakat luas. Bahkan, di pundak mahasiswa adalah misi suci dari langit berupa keikutsertaan dalam mengerahkan perubahan-perubahan zaman sesuai dengan nilai-nila ketuhanan. Untuk itu, maka tidak jarang mahasiswa membentuk organisasi-organisasi, himpunan-himpunan, serta gerakan-gerakan sebagai media latih, bahkan sebagai bentuk pelayanan langsung terhadap masyarakat.

Dari uraian di atas maka perlulah kita sebagai pelaku organisasi untuk menjadi pioneer yang sukses dalam organisasi dan mempunyai nilai akademik yang bagus dan intelektual yang tinggi sehingga dapat memberikan manfaat bagi diri, keluarga, lingkungan dalam  kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Apabila kita menilik ke dalam untuk mengetahui apa hakekat dari mahasiswa, maka kita akan mengetahui bahwa mahasiswa mempunyai banyak sekali sisi. Disatu sisi mahasiswa merupakan peserta didik, dimana mahasiswa diproyeksikan menjadi birokrat, teknorat, pengusaha dan berbagai profesi lainnya. Dalam hal ini mahasiswa dituntut untuk memeliki kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual. Dengan keseimbangan tiga hal tersebut diharapkan mahasiswa dapat mengendalikan egonya, mandiri, dan menjadi pribadi yang handal menggantikan peran-peran pendahulunya dimasa yang akan datang dengan melakukan perbaikan terhadap kondisi kearah yang lebih baik.

Mahasiswa sebagai seorang yang mempunyai nilai dan kemampuan akademik sehingga memiliki potensi besar dalam dirinya, kemampuan logika, intelegensi yang tinggi, didukung oleh fisik yang energik, mempunyai kewajiaban atas hausnya ilmu,haus informasi, selain itu harus mencerminkan sikap ilmiah dan etika akademik sebagai seorang cendekiawan muda. Sifat haus ilmu dicerminkan dengan memburu ilmu dimana saja dan kapan saja.

Bagi mahasiswa, organisasi adalah penting sebagai kampus kedua setelah kampus akademis dimana mereka menimba ilmu. Dalam artian mahasiswa tidak sebatas mengindahkan konsentrasi studinya, malainkan juga mengindahkan nilai-nilai social, budaya, agama. Organisasi juga merupakan sebuh laboratoium bagi mahasiswa untuk meng-up grade kemampua leadership dan jiwa humanitasnya.

Maka, merupakan sesuatu yang tidak berlebihan jika kita sebagai pelaku organisasi untuk menjadi pioneer yang sukses dalam organisasi dan mempunyai nilai akademik yang bagus dan intelektual yang tinggi sehingga dapat memberikan manfaat bagi diri, keluarga, lingkungan dalam  kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Download versi pdf

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s